Losing Job in the Time of Corona

0
27

Oleh: Arman Dhani

Aku baru saja dihubungi kantor. Proyek yang dikerjakan sejak enam bulan terakhir harus dihentikan dan jasaku tak lagi dibutuhkan. Singkatnya Aku dipecat. Aku tidak sendiri. Ada delapan orang lain yang bernasib sama. Kami hanya bisa tertawa getir. Dalam percakapan terakhir di grup kerja, kami bercanda, setidaknya kita ngga kena corona.

Enam bulan lalu aku dikontak Tara Suwanto, produser di Vice, yang sedang mengembangkan konten untuk Hooq. Kami berdiskusi, mengembangkan ide, sampai produksi video bersama. Konsepnya sederhana, komedian mengomentari isu-isu terkini dari sudut pandang berbeda, berbasis data, riset yang mendalam, dan tentu saja komentar yang sarkas. Bersama Uus, Sakdiyah Ma’ruf, Melati Kusuma, David Hagler, dan Abdur Arsyad ini jadi tantangan baru.

Prosesnya sungguh ajaib. Pertama kami menentukan tema besar, membedahnya hingga unit terkecil, lalu pelan-pelan mencari respon di masyarakat dan fenomena yang menyertainya. Misalnya, kami menggali tema tentang seksualitas di Indonesia. Meski mengaku sebagai negara sekuler, sebagian besar orang Indonesia sangat religius. Setidaknya berdasarkan riset PEW Forum, 93 persen orang Indonesia menganggap agama penting. Tapi di sisi lain, kelompok usia milenial yang jumlahnya mencapai 90 juta orang, menjadi pengakses video porno tertinggi di Asia Tenggara.

Temuan-temuan itu kami rangkum, uji validitasnya, lantas ditulis menjadi lelucon. Nyaris setiap minggu kami shooting, belajar hal-hal baru tentang produksi video untuk kebutuhan komersil. Sesuatu yang tak pernah Aku lakukan. Dalam tim Vice+Hooq ini Aku bekerja bersama Pika, Rana, “Rio” Dharmawan Sampurna dan Arandarga Lubis.

Pika kerap membantuku menerjemahkan ide liarku dalam bentuk deck yang spesifik. Persoalan seorang script writer kadang menerjemahkan ide visual mereka yang kerap susah dipahami oleh klien. Di sini Pika dan Tara sangat membantuku untuk membuat Deck yang baik agar bisa dipahami klien. Sebelumnya Aku tak paham apa fungsi Deck, mengapa perlu ada deck jika Sudah ada script dialog? Bukankan visualnya sudah bisa dibayangkan? Ternyata kerja kreatif dalam produksi konten video tidak sesederhana itu.

Rana adalah Production Asistant yang jatmika. Ia bisa mengkoordinasikan dengan baik tim produksi, talent, dan juga manajemen. Kerap kali kami dibantu Rana agar proses produksi berjalan lancar. Mulai melakukan menghubungi manager talent, memastikan mereka datang sesuai kontrak kerja, hingga service terhadap seluruh kru. Sementara Rio adalah seorang aristek produksi yang ciamik. Ia menyusun jadwal shooting dengan detil, mengawasi seluruh keperluan produksi video terpenuhi, hingga mengatur arus kerja raw material untuk editing.

Arandarga atau Aran adalah sutradara sebagian besar video yang kami produksi. Ia bertanggung jawab pada dapur visual kami, bagaimana membuat gambar yang tidak hanya bagus, tapi juga fungsional secara estetik. Sederhananya begini, dengan kamera beresolusi tinggi setiap gambar akan diproduksi secara jelas. Tapi apakah ia baik dalam pengerjaan postpro? Bagaimana membuat gambar yang memudahkan Editor Video? Sudut mana yang menghasilkan gambar dengan kebocoran cahaya paling minim? Atau bagaimana membuat jidat talent tidak terlalu bersinar?

Post pro itu apa? Post Production adalah tahapan usai penggambilan gambar untuk mengolah hasil video yang masih kasar menjadi lebih baik lagi. Video yang diambil Aran diolah oleh editor kami. Memberikan grafik, animasi, juga teks. Proses ini membutuhkan waktu yang lumayan lama. Kadang aku harus duduk bersama mereka untuk bisa menghasilkan visual yang aku inginkan.

Hal-hal remeh yang selama ini tak pernah aku ketahui atau bahkan aku pikirkan.

Selain dengan beberapa orang tadi, Aku juga bekerja bersama Raby dan Julius. Dua editor video/gamer/rekan ngobrol yang asik. Mereka bertanggung jawab pada pengerjaan postpro seperti menambahkan grafis, editing green screen, membuat video yang kami produksi lebih hidup dengan lelucon kering dan gambar-gambar meme-esque yang tak pernah dibayangkan. Hasilnya? Konten yang membuat banyak orang tertawa sambil berteriak “Anjirr apaan bangkeee”.

Mengingat enam bulan kerja bersama mereka membuatku pilu. Orang-orang ini membantuku jadi seseorang yang lebih baik secara profesional maupun secara individual. Tara Suwanto, orang yang mengajakku dalam proyek ini, benar-benar memperhatikan hak kami sebagai pekerja. Ia menganggap kami bukan sebagai bawahan, tapi sebagai tim. Menjamin kebutuhan kami saat proses kerja terpenuhi, mengawasi tiap-tiap tugas yang diberikan telah selesai, dan yang paling penting bekerja sebagai satu kesatuan bukan individu.

Hal yang membuat kami kesal adalah alasan mengapa kami dipecat. Bukan karena hasil kerja kami buruk atau karena kami tidak bekerja dengan baik. Tapi karena klien kami, Hooq bangkrut, imbasnya kami dirumahkan tanpa bisa menayangkan satupun episode konten yang kami buat selama ini. Enam bulan kerja, nyaris selalu lembur, tapi tak bisa ditunjukkan pada publik.

Jelas kami kecewa karena kehilangan pekerjaan, tapi lebih dari kecewa karena dipecat, kami kecewa karena tak mampu memberikan hasil kerja keras kami kepada publik. Padahal kami yakin, apa yang kami buat ini bakal menghibur, bakal memberikan kegembiraan. Tapi di luar itu semua aku bersyukur bekerja dengan orang-orang ini.

Steve Jobs pernah bilang Great things in business are never done by one person; they’re done by a team of people. And I have the best team that pushes me to the point where I missed to work them.

Losing a job in the time of Corona is really painfull. Ngga cuma bikin kita terpukul secara ekonomi, tapi juga mental. Kita kehilangan sumber penghasilan, sesuatu yang penting saat pandemi. Kita perlu memenuhi kebutuhan dasar selama isolasi. Ini makin runyam kalau kamu bagian dari Sandwich Generation. Masih harus menghidupi orang tua dan juga istri serta anak. Orang-orang yang bekerja bersamaku ini sebagian sudah berkeluarga dan kondisi ini membuatku berharap mereka bisa bertahan.

Aku bisa membayangkan ribuan orang yang terjaga tengah malam. Mereka yang bingung harus berbuat apa di tengah Pandemi. Mereka tak bisa buka usaha karena seruan physical distancing, sementara lapangan pekerjaan nyaris tak ada lowongan. Linkedin untuk pertama kalinya seperti kehabisan pekerjaan.

Rasa cemas ini berlipat jika kamu punya beban keluarga, entah orang tua atau istri dan anak. Kita tak lagi hidup sendiri, pandemi memaksa kita untuk benar-benar tunduk pada keadaan. Berdiam diri tanpa bisa berbuat apa-apa karena ketidakpastian keadaan.

Aku paham, saat ini adalah waktu yang sulit untuk mempekerjakan orang baru. Tapi jika kamu bersedia, mungkin kamu bisa merekomendasikan orang-orang ini. Membantu mereka agar bisa masuk dalam radar para pencari kerja. Jika kamu butuh kontak orang-orang ini untuk pekerjaan baru, hubungi aku.

Peluk erat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here