Surat Edaran Kepala Sipir: Metodologi Sindrom Penipu

0
63

Jika kamu menempuh ujian dan dibantu banyak orang untuk lulus—bahkan sampai ke tahap jawabanmu dibuatkan orang lain—apakah artinya kamu benar-benar lulus? Atau kelulusanmu itu hanyalah sebuah kepalsuan?

Sebagai perumus dasar pendidikan di MondiBlanc, saya sering menerima protes, baik dari mentor maupun peserta workshop. Mereka mempertanyakan mengapa saya begitu banyak mengintervensi karya peserta. Crossing! Pelanggaran batas (boundaries)!

Dalam proses penulisan, saya bisa bertindak seekstrem menulis ulang naskah mereka. Di ranah penyutradaraan, saya bisa membuatkan treatment baru untuk diotak-atik oleh sutradaranya. Di lini produksi, saya bahkan mencarikan seluruh kru yang diperlukan produser, sekaligus menegosiasikan harga agar proses syuting bisa berjalan. Sementara di level below-the-line, intervensi terbesar saya berwujud formula: “Fix in Post.”

Aktor suara karakternya kurang pas atau pacing-nya lambat? Fix in post. Warna art-nya salah? Fix in post. Sinematografer salah komposisi atau lighting? Fix in post. Sound recordist salah mengarahkan boom? ADR—fix in post. Editor bingung bagaimana mengeksekusinya? Take over. Fix. In. Post.

Hal ini memicu pertanyaan kritis dari para mentor, “Ini pendidikan atau profesional? Kalau tiap kesalahan langsung dibetulkan, anak-anak tidak akan belajar, dong!?”

Contoh nyatanya terlihat pada seorang sutradara muda lulusan Mondi di ajang JAFF. Ketika ditanya bagaimana ia menyelesaikan filmnya, ia menjawab: “Saya tidak mengerjakan apa-apa di film ini, semua dibantu kawan-kawan.” Agency-nya hilang. Ia tidak mau—atau tidak bisa—bertanggung jawab atas karyanya sendiri.

Untuk membenahi masalah ini, MondiBlanc melakukan dua upaya terobosan:

Pertama, pada tahun 2024, Aka Witharja selaku Kepala Program Mondi (yang kini lebih aktif sebagai kepala Script Lab), memisahkan antara Workshop FPS dan Produksi Omnibus. Langkah ini diambil untuk memperkuat agency dan rasa kepemilikan peserta terhadap film mereka. Sayangnya, pada tahun itu hanya 2 dari 5 film yang berhasil diproduksi, dan dari jumlah tersebut, hanya satu yang berhasil tayang di tahun 2025.

Kedua, pada tahun 2025, kita menemukan metodologi ‘Batas’ untuk mempertajam pemisahan antara ranah workshop dan praktik produksi. Kita memastikan agency tetap berada di tangan para peserta FPS untuk memutuskan apakah akan melanjutkan proyek omnibus atau tidak. Kendati semua film berpotensi diproduksi, banyak aktor dan kru yang akhirnya tidak bisa terlibat dalam omnibus karena batasan waktu, komitmen, serta naskah yang kurang cocok.

Di tahun 2025, para lini ATL (Above-the-Line) mulai menyadari bahwa dalam membuat proyek Omnibus, mereka akan disokong oleh banyak pihak: mulai dari script doctoring yang intensif, dukungan produksi, sound design, hingga pascaproduksi. Dukungan ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuat film menjadi mungkin untuk diproduksi; di sisi lain, dukungan ini membawa kesepakatan bisnis yang kerap mengekang kreativitas. Pertanyaan lama pun kembali berdengung: “Ini pendidikan atau profesional? Kalau tidak boleh salah, bagaimana anak-anak bisa belajar?”

Jawaban saya lugas: Film-film omnibus terlalu mahal untuk gagal. Jadi, anak-anak tidak boleh salah.

Dalam produksi Omnibus, jika terjadi kesalahan, maka yang menanggungnya adalah MondiBlanc sebagai sebuah institusi dan sistem—bukan salah peserta didik, mentor, ataupun profesional yang mendukung kita. Semua beban kesalahan bermuara pada Mondi, dan kredibilitas kitalah yang dipertaruhkan. Kesalahan fatal hari ini akan mempersulit Mondi untuk memproduksi film di tahun depan.

Lantas, apakah ini sistem profesional? Jelas bukan. Dalam dunia profesional, jika seseorang inkompeten, mereka akan langsung diganti. Omnibus tetaplah sebuah workshop, namun dengan konsekuensi berupa “bekas luka” dari proses belajar langsung di lapangan. Proyek ini tetap berstatus workshop karena pembina, mentor, labs, dan peserta lain yang lebih kompeten harus ikut menanggung beban inkompetensi temannya yang masih kurang keahlian, sering bimbang, sulit mengambil keputusan, defensif, minim referensi, serta kurang pengalaman lapangan.

Menariknya, ini adalah sebuah plot twist: ketika kalian pertama kali terjun ke industri film nanti, mayoritas dari kalian tidak akan langsung bertemu dengan tim profesional yang etis. Kalian justru akan sering berhadapan dengan tim yang inkompeten—mereka yang kurang skill, plinplan, defensif, minim referensi, dan minim jam terbang. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menemukan tim dan rekan kerja yang benar-benar solid.

Dalam kondisi seperti itu, kita harus siap menanggung dan ditanggung. Kita bisa kesal dan marah, karena merasa bahwa kita menanggung terlalu banyak. Kita bisa depresi dan sedih karena merasa kita tidak mampu mengerjakan tugas hingga terus dibantu. Tapi kita harus ingat bahwa kita mau bikin film ini sama-sama, dan film ini tidak sepenting kru kita. Karena itu, intervensi dan crossing kita lakukan untuk menyelamatkan kru kita dari eksploitasi dan kerja sia-sia.

Akhir kata, imposter syndrome (sindrom penipu) pasti akan menjangkiti kalian, baik di dalam workshop Mondi maupun di industri film nanti. Semua orang pasti dan pernah mengalaminya. Karena itu, jalan terbaik adalah selalu meminta izin (consent) kepada orang lain saat kita terpaksa harus mengintervensi (crossing) pekerjaan mereka. Jika consent tidak diberikan padahal kalian tahu mereka memiliki keterbatasan waktu, intelektual, finansial, atau hal lainnya, kalian selalu bisa membawanya ke hierarki yang lebih tinggi untuk mencari solusi.

Sebab filmmaking akan selalu akrab dengan masalah, dan melalui masalah-masalah itulah kita akan tumbuh menjadi jauh lebih jago menghadapinya.