Ditulis oleh Ryan Sebastian
The Nameless Boy merupakan film pendek dokumenter yang menarik untuk
ditonton, tidak ada dialog dari tokoh utama yang disorot oleh kamera sang pembuat
film tetapi latar suara (backsound) membantu kita memahami konteks yang sedang
dibangun oleh sutradara dalam filmnya. Pada 2017, menjadi momen yang sulit untuk
dilupakan, entah keberapa kali untuk masyarakat dengan etnis cina atau
keturunannya. Tahun itu kontestasi politik di ibukota Indonesia (Jakarta) menjadi
salah satu pemilihan gubernur yang cukup panas, dimulai dari Ahok yang
mencalonkan diri menjadi seorang gubernur. Film The Nameless Boy membawa
saya mengingat kembali masa saat saya masih sekolah, dan pada situasi panas
politik hari itu. Suara teriakan orasi yang penuh intimidasi pada film The Nameless
Boy memiliki nuansa yang sama dengan teriakan yang saya dengar pada saat
kejadian unjuk rasa tersebut, masih dengan intimidasi yang begitu menakutkan.
Mengikuti anak sebagai pemeran utama dalam film ini, menjadi hal yang menarik
untuk membicarakan tentang kepolosan. Anak-anak kerap menjadi simbol tentang
kepolosan dalam pandangan orang dewasa. Anak kecil yang diikutkan dalam film ini,
menjadi narator tidak bicara tetapi penuh dengan makna. Melihat bagaimana latar
suara dalam film ini, dan anak kecil yang terus diikuti oleh kamera menunjukkan dua
sudut pandang yang berbeda; 1) Pemahaman tentang apa yang diperjuangkan; 2)
Ketidaktahuan.
The Nameless Boy menjadi salah satu film dokumenter pendek yang menarik untuk
ditonton, untuk mengetahui situasi politik pada tahun 2017. Pemilihan latar suara
pada saat orasi juga dapat menunjukkan tentang bagaimana rasisme, serta
diskriminasi agama diperlihatkan secara tampak di publik untuk semua masyarakat
dengan berbagai lapisan umur. Film ini menunjukkan jelas tentang bagaimana,
ideologi Pancasila sama dengan Islam. Membahas tentang penistaan agama tetapi
dipersempit dengan penistaan Islam. The Nameless Boy memberikan pengalaman
menonton dokumenter yang menyenangkan untuk saya. ‘