Ketakutan akan Arkaik dalam Horror Modern: Bagaimana Midsommar Menyelamatkan Kita

1
96

Nosa Normanda*

 

Dalam dunia mainstream film: tradisi, masa lalu, dan suku pedalaman seringkali dimasukan ke dalam konteks yang tidak mengenakkan. Lagu lama atau lagu daerah menjadi latarnya, suku-suku pedalaman dan ritualnya membunuh karakter-karakter protagonis, dan setting kampung atau desa menjadi latar sebuah mimpi buruk bagi orang kota.

Orang kota adalah penonton utama film. Karenanya film secara dominan merepresentasikan orang kota. Protagonis mewakili nilai-nilai moral yang dianut penontonnya, dan ini, seperti kata Augusto Boal dalam buku Theater of The Oppressed (1976), dimulai ketika Yunani Kuno menemukan teaternya. Dalam tragedi, protagonis sebagai perwakilan penonton menemui akhir yang pedih, yang memberikan sebuah katarsis untuk penontonnya. Protagonis menjadi martir, menjadi nabi, yang mati mengenaskan atau cacat seumur hidup seperti Oedipus, karena berusaha melawan takdir dewata. Dalam komedi, protagonis menemukan kebahagiaan dan tawa, serumit apapun masalahnya.

Pada film-film horor kontemporer, protagonis bisa berakhir menjadi mayat dan memberikan katarsis pada penonton layaknya sebuah tragedi, atau menjadi penyintas yang memberikan semangat buat penonton—apalagi untuk menunggu sekuelnya. Namun dalam banyak sekali film horor, musuhnya adalah setan, iblis, kutukan, atau apapun itu yang berasal dari agama lama, pagan, masa lalu, atau budaya asli. Narasi film horor menjadi bias modernism, dimana kota menjadi pusat semesta, dan apapun yang di luarnya menjadi gelap. Keterasingan dari kota dan modernitas menjadi sesuatu yang menyeramkan. Ini formula yang mendominasi SEMUA film horor Indonesia dari zaman orba hingga hari ini. Ya, SEMUA. Saya belum lihat film horor Indonesia yang setannya berasal dari, misalnya, pengacara kapitalis, seperti The Devil’s Advocate (Taylor Hackford, 1997). Kalau pun ada keterlibatan uang dan kapitalisme, bentuknya masih sangat arkaik (atau berasal dari mitologi lama) seperti babi ngepet atau tuyul. Logikanya sangat modern kapital, setannya sangat klasik.

Dalam Midsommar (Aster, 2019), kita disajikan horor yang jauh berbeda. Masyarakat modern di Swedia berkumpul untuk mengagungkan nilai budaya, identitas, keimanan, dan etnisitasnya melalui ritual-ritual arkaik yang simbolnya berlapis-lapis: dari simbol-simbol tanda dalam tulisan dan lukisan, sampai simbol-simbol riil seperti pengorbanan diri dan tumbal. Simbolik menjelma literal, nyata. Seperti anggur dan roti yang menjelma darah dan daging sungguhan dari Kristus. Atau domba yang menjelma mayat Ismail. Gory, menyeramkan, namun di saat yang sama juga membebaskan. Dalam bagian yang film Midsommar versi sutradara ini, kita melihat adegan Ibrahim-Ismail, atau tumbal anak. Semakin menjelaskan betapa ritual yang non-simbolik menjadi begitu menakutkan buat orang modern.

Midsommar mengkompilasi ritual-ritual dari berbagai belahan dunia: penggunaan substansi untuk menguatkan rasa dan imajinasi, serta menyambungkan diri dengan yang transenden, mantra dan doa, serta daya empati dieksplorasi untuk mengembalikan seni ke akarnya yang sesungguhnya: ritual, agama. Seksualitas yang dijadikan ritual ada di banyak budaya lama, bahkan masih sering dipakai sebagai ritus pendewasaan di banyak konteks.

Di Indonesia, contohnya secara simbolik, dalam berbagai institusi, seorang pria atau wanita yang belum menikah akan sulit mendapatkan privilise dalam karir atau status sosialnya. Hilangnya keperawanan adalah sebuah ritus pendewasaan seorang gadis menjadi wanita, dan harus disahkan oleh masyarakatnya melalui upacara-upacara. Midsommar hanya membawanya lebih jauh dengan tontonan massa yang kaya nilai matriarkal, ketika lelaki menjadi objek bagi para perempuan. Adegan dimana tokoh pria menyetubuhi gadis perawan dan disaksikan para wanita lain, mengingatkan saya pada adegan terakhir film A Clockwork Orange karya sutradara Stanley Kubrick, ketika Alex menyetubuhi seorang gadis sembil disoraki banyak orang, sebagai tanda pendewasaan Alex menjadi lelaki.

Ritus Pendewasaan Kuno di Zaman Modern

Ritus pendewasaan atau Rites of Passage, adalah sebuah konsep dimana seorang individual melewati semacam ritual performatif untuk mengubah statusnya. Pernikahan, aqiqah, sunatan, wisuda, dan segala upacara-upacara dilakukan untuk mengubah status seseorang, dari kecil jadi remaja jadi dewasa. Dari gadis menjadi wanita jadi istri. Dari mahasiswa menjadi…pengangguran.

Berbeda budaya, berbeda pula ritus pendewasaanya, dan semakin modern sebuah budaya, maka ritus semakin simbolik dan maknanya semakin ringan dan karenanya pelan-pelan menghilang. Makna ritus wisuda untuk orang yang kuliah dengan dana beasiswa yang harus mempertahankan IPK dengan orang yang masuk jalur khusus dan selalu diselamatkan uang orang tuanya akan jauh berbeda. Makna pernikahan untuk seorang perempuan yang semenjak kecil memimpikan menjadi putri raja, dengan seorang lelaki yang cuma tak mau kesepian juga akan berbeda. Semakin besar taruhan tindakan performatif sebuah ritual, semakin dalam maknanya bagi seorang individual dan masyarakatnya.

Karena itulah di dalam budaya timur, pernikahan dan pemakaman seringkali dilakukan dengan sangat mewah, untuk menaikan taruhan dan nilai ritual tersebut. Semakin mewah, maka semakin ketat struktur yang mengikat seorang individual untuk membatalkan sebuah status—ada hukuman sosial yang mengerikan ketika, misalnya, seorang wanita bercerai di dalam masyarakat yang ikatan pernikahannya melibatkan ribuan orang dan dana yang besar.

Semakin modern sebuah masyarakat, semakin simbolik ritual pendewasaannya. Dan semakin simbolik sebuah ritual, semakin kecil taruhannya. Dengan ini, perlahan muncul ketakutan-ketakutan baru soal ritual yang lebih arkaik dan tidak simbolik. Maka tradisi menjadi perlambang keterikatan yang menyeramkan. Dan tumbal menjadi sebuah hal yang tidak manusiawi. Untuk para vegan dan pecinta binatang, misalnya, Idul Adha-nya orang muslim dimana pembantaian kambing dan sapi terjadi secara massif dan sistematis, bisa menjadi sangat-sangat mengerikan. Karena vegan dan pecinta binatang telah mempersonifikasi hewan kurban, menyematkan nilai kemanusiaan dan empati, sehingga simbol kemanusiaan itu menjelma nyata. Maka ketika melihat penyembelihan, yang mereka lihat adalah pembunuhan.

Midsommar membawa kurban dan ritus pendewasaan ke fasenya yang klasik, dengan seluruh taruhan tanpa ragu-ragu dikeluarkan dan membuat tokooh utamanya tersenyum bahagia di akhir film karena berhasil menyembuhkan penyakit mentalnya: penyakit keragu-raguan dan keterasingan dari kenyataan, yang diberikan sekat-sekat masyarakat modern kepada manusia modern: kesepian dan stagnasi, serta kegamangan eksistensi. Maka ketika seseorang benar-benar kehilangan apa yang ia beri nilai, taruhannya, ia baru benar-benar bisa merasakan sakitnya, dan ia terbebas.

Modernitas dengan segala obat-obatan dan segala kenikmatan konsumsi membuat manusia mampu menahan dan menolak kesakitan-kesakitan spiritual yang telah diturunkan oleh nenek moyang kita sebagai bagian evolusi. Manusia modern, mampu tidak menerima takdir sampai ia mati dengan segala penolakannya dan berbagai macam alat, hingga ia kehilangan makna keberadaannya dan hadir sebagai sekrup mesin besar kapitalisme. Film pendek Happiness (Steve Cutts, 2017), yang menyimbolkan manusia sebagai tikus-tikus pencari kebahagiaan di dunia kapital ini dapat menggambarkan keterasingan tersebut. Dunia kapital mendomestifikasi manusia layaknya hewan-hewa percobaan, yang tidak berhasil menemukan makna kehidupannya, dan terjebak dalam sekat sains dan modernitas itu. Jauh dari alam dan kodrat instingtualnya–bahkan kata kodrat saja sudah ditolak oleh sains barat. Ritual pendewasaan arkaik yang menakutkan itu menjadi sebuah cara untuk menembus batas-batas kewarasan modern, mengembalikan manusia pada sebuah taruhan antara hidup dan mati, dengan akhir yang sama: penerimaan terhadap alam dan yang transenden.

Secara jujur, Midsommar menghadirkan sebuah kenyataan pahit dari kehidupan modern kita, bahwa banyak dari kita yang masih membutuhkan sekte dan pengorbanan arkaik ini untuk memecahkan masalah eksistensial kita. Karenanya sekte-sekte banyak yang populer, dari ISIS sampai Negara Islam Indonesia. Gerakan-gerakan ritual seksual juga ada di kampus-kampus, menjelma menjadi nikah siri, nikah dini, atau apapun ritus pendewasaan yang bisa—ini kisah nyata—melancarkan karir politik seorang kader partai dari kalangan mahasiswa. Menyiapkan masa depannya. Midsommar memberikan sebuah simpulan kemanusiaan yang bisa kita temukan dalam kemabukan di klab malam, hingga bom bunuh diri dengan arti yang kurang lebih sama: menemukan makna diri. Film ini seperti melihat adegan sebuah klab malam yang penuh orang hedon, yang diledakan oleh seorang teroris. Film yang cantik, sakit, dan menegangkan. Film yang ritualistik dan horor yang begitu realistik. Sebuah tontonan horor bagi mereka yang diuntungkan oleh kebudayaan kota, sebuah ritual pendewasaan bagi mereka yang mempertanyakan eksistensinya.

*) Nosa Normanda adalah jurnalis dan antropolog.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here