Pahlawan Super Memperjuangkan Apa? Mencari Tatanan dari Gundala dan Joker

0
211

Oleh
Nosa Normanda*

Tahun ini, Indonesia berhasil merilis film superhero yang bisa dibilang paling membanggakan sepanjang sejarah film superhero Indonesia yang sudah hibernasi puluhan tahun: Gundala. Terlepas dari beberapa keluhan-keluhan reviewer film, tidak bisa dipungkiri Gundala adalah film superhero dengan standard tinggi di wilayah regional Asia Tenggara hari ini. Tidak heran jika film ini mampu menembus Toronto International Film Festival dengan animo penonton yang cukup besar.

Di tahun yang sama, beberapa bulan setelahnya, Todd Phillips merilis Joker. Dibintangi aktor lawas Joaquin Phoenix, Joker menjadi film prequel superhero bertema kesenjangan sosial dengan karakter anti-hero (kalau bukan supervillain, karena ia tidak punya kekuatan super), yang jarang di Hollywood. Joker tidak hanya menjadi film yang kaya dengan intertekstualitas semesta franchise film-film Batman tetapi juga memiliki referensi-referensi film drama dengan tokoh pria kulit putih yang stress dan jadi kriminal karena kemiskinan, seperti Taxi Driver (Scorsese, 1976) atau Magic (Attenborough, 1978).

Singkatnya, ketika Gundala berusaha membangun semesta superhero Indonesia yang terlupakan, Joker menggunakan semesta superhero yang sudah mapan terbangun, ditambah dengan isu kelas dan penyakit mental dari kelas menengah bawah kulit putih di Amerika.

Dua film yang dibuat dengan konteks yang jauh berbeda itu punya beberapa kesamaan yang penting dilihat dalam sinema superhero kontemporer kita hari ini.

Pertama, keduanya bicara masalah kesenjangan kelas sosial. Baik Gundala dan Joker, walaupun yang pertama Superhero dan yang kedua Anti-Hero, hadir dari kelas menengah bawah di kota, atau kaum miskin kota. Mereka bekerja sebagai pegawai rendahan, yang satu satpam yang satu lagi badut di agensi.

Kedua, baik Gundala dan Joker ada di situasi sosial dengan kondisi ekonomi yang sedang parah: protes dan kerusuhan ada dimana-mana, ketidakpercayaan publik terhadap kaum kaya dan pemerintah sedang tinggi-tingginya.

Ketiga, keduanya lelaki yang punya masalah dengan figur ‘ibu’. Sancaka (Abimana Aryasatya) ditinggal ibunya, sementara Arthur Fleck merasa dibohongi oleh narisisme sang ibu.

Keempat, dua film tersebut ada dalam setting pasca perang dingin, dimana ideologi neo-kapitalisme (baca: barat-kanan), sudah menang dan korporasi berzina dengan negara untuk menguasai lini-lini kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat kota.

Dalam konteks ini, publik metropolitan sudah apatis terhadap ideologi dan perlawanan, yang hari-hari ini hadir dalam konteks kapitalisme pula—mau topengnya agama, agraris atau ultra kiri, semua ingin kuasa atas kapital. Tuntutan-tuntutan dalam kedua film adalah tuntutan finansial: upah minimum, kurangi jam kerja, dan kemakmuran. Adegan-adegan penjarahan memperlihatkan ideologi konsumerisme massa, bukan penuntutan akan kebijakan yang lebih baik, atau perubahan ideologi dari despotisme ke demokrasi, misalnya.

Karena sudah tidak ada lagi tirani, yang ada adalah oligarki. Dan oligarki bersembunyi di balik perusahaan-perusahaan cangkang, hukum, agama, aristokrasi dan birokrasi. Perlawanan rakyat menjadi semakin percuma karena mereka tidak bisa lagi melihat musuhnya. Walhasil, rakyat kota menuntut hal-hal konkrit dari yang terlihat saja tanpa bisa mengkritisi kompleksitas yang sedang berlangsung. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual di Indonesia, misalnya, dianggap terlalu rumit dan tidak praktis, sehingga menjadi kurang populer dibanding hal-hal kapital praktis seperti UU KPK atau KUHP yang langsung bisa menjadi penghalang gerak ekonomi-politik orang banyak jika disahkan.

Dunia pernah mudah

Narasi pahlawan super awalnya hadir seperti dewa-dewa di zaman kuno. Mereka mengembalikan keseimbangan, membuat atau memelihara tatanan. Yang tertata adalah baik, yang berantakan adalah buruk. Dan mereka melawan orang-orang yang berusaha untuk merusak tatanan, atau hendak membuat tatanan baru yang merampas kebebasan dari orang-orang yang mereka lindungi.

…superhero hari ini membela apa? Membela siapa? Membela rakyat artinya mengopresi korporasi/pemerintah dan karenanya anarkis. Menekan kerusuhan, berarti pendukung status quo. Sulit sekali menjadi pahlawan hari ini.

Siapa yang dilindungi superhero dan dewa-dewa? Ya, tentu penyembah-penyembahnya, rakyat yang lemah dan butuh pertolongan. Superhero dan dewa-dewa jadi harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Kehidupan di mana keadilan bisa terjadi dan rakyat bisa terbebas dari orang-orang jahat dan korup; dari orang-orang yang ingin menguasai dunia untuk kepentingannya sendiri.

Di Indonesia begitu banyak yang haus perlindungan: kasus-kasus pelanggaran HAM tetap tidak tersentuh berimbas pada disintegrasi dan kemuakkan di beberapa wilayah—Papua, misalnya. Termin pertama presiden Joko Widodo diakhiri dengan permasalahan hukum dan UU, dari revisi UU KPK, revisi KUHP, hingga RUU PKS yang tidak juga disahkan. Karhutla bertambah parah karena korporasi sawit yang pemerintah lewat kemenkominfo sempat bilang ‘sawit yang baik.’ Presiden di termin dua nampak ingin menjaga koalisi gemuk partainya untuk melancarkan jalan investasi dan misi pembangunannya. Sentimen dan ketidakpercayaan publik meningkat pesat, dari kaum sekuler kelas menengah yang menuntut soal kebijakan (banyak juga yang konstituen Jokowi sendiri), hingga dari golongan agamis kelas menengah bawah yang membawa narasi berbeda tentang pemulangan idola mereka.

Di Amerika, presiden Trump semakin hari semakin menghadapi ancaman impeachment, bukan hanya karena cuitan dan omongannya, tapi juga karena kebijakkannya yang sangat semena-mena dan bias kelas/oligarki. Namun impeachment Trump seperti kiamat: ia selalu dekat tapi tak juga sampai. Orang-orang Amerika yang kebanyakan hari ini adalah imigran, terbelah dua: ketakutan pada yang asing, pada imigran baru, membuat banyak mantan imigran pun membela Trump. Padahal kebijakannya jauh dari manusiawi.

Anak-anak dipisahkan dari orang tuanya dan ditaruh di kandang-kandang seperti binatang. Orang-orang dideportasi, dan dipisahkan dari keluarganya. Industri-industri tidak ramah lingkungan hendak dihidupkan kembali. Kebijakan yang pro alam dibatalkan, dan banyak lagi. Asuransi kesehatan publik jadi bermasalah. Pemerintahan di-shut down dengan mudahnya hanya untuk tekanan politik membangun tembok. Namun sistem yang sudah dibangun ratusan tahun dan wacana serta aliran informasi sudah begitu kompleks dan membingungkan, membuat warga AS semakin sulit mencari mana yang benar dan lebih memilih untuk mendengar apa yang mau mereka dengar, mendukung tanpa ada kroscek.

Lalu superhero hari ini membela apa? Membela siapa? Membela rakyat artinya mengopresi korporasi/pemerintah dan karenanya menjadi anarki. Menekan kerusuhan, berarti pendukung status quo. Sulit sekali menjadi pahlawan hari ini.

Gundala dan ‘Moralitas’

Krisis moralitas bukanlah ketiadaan moral, tapi bentroknya nilai-nilai moralitas yang satu dengan yang lain.

Untuk menjawab pertanyaan ini dalam film Gundala, kita perlu membongkar elemen-elemen naratif inti, atau yang disebut Seymor Chatman dalam buku Story and Discourse: narrative structure in fiction and film (1978) sebagai kernel. Kernel adalah “bagian dari plot yang jika dihilangkan akan mengubah seluruh logika cerita.”

Dalam Gundala ada beberapa kernel yang bisa kita petakan dalam dua bingkai waktu. Pertama, ketika Sancaka masih kecil (Muzakki Ramdhan). Porsi ini memperlihatkan seorang anak yang lahir dan besar di dalam lingkungan buruh pabrik, dimana pengusaha pabrik bisa menyewa polisi untuk mengamankan kepentingannya—ini masih terjadi dimana-mana hari ini di Indonesia, seperti di Kendeng, misalnya.

doc. Screenplay films

Di garis waktu yang sama, Pengkor kecil (Muhammad Zayyan Aqilah) yang berlatar belakang keluarga pemilik perkebunan, melihat massa rakyat menghabisi keluarganya. Ia juga kehilangan separuh wajahnya dalam kebakaran yang disebabkan oleh “perlawanan rakyat.” Ia belajar manipulasi dan kontrol orang lain ketika ia d rumah Yatim Piatu, dan menggunakan bakatnya untuk membuat kekacauan terstruktur dengan teknik manipulasi semacam itu—sebuah adegan yang mengingatkan saya pada tokoh Johan Liebert dalam komik Monster (1994-2001) karya Urosawa Naoki, dimana penjahat utamanya membuat panti/sekolah anak pilihan pemerintah Jerman menjadi rusuh dan terbakar dengan kemampuan manipulasi dan adu dombanya. Tidak ada figur ibu dalam hidup Pengkor. Maka ia besar sebagai Patriark: Bapak.

Johan Liebert dalam Monster karya Urosawa Naoki

Berbeda dengan Sancaka, Pengkor punya misi sosial yang kuat: membuat jaringan, menolong anak Yatim Piatu. Terlepas dari apapun tujuan akhirnya, dan piutang yang hendak ia tagih, Pengkor jelas punya visi; sementara Gundala, cuma punya kecerdasan sejauh otak atik barang elektronik, tapi tidak ideologis. Motivasi gerak pahlawan kita didasarkan nilai baik-benar yang lokal dan sederhana, seperti Spiderman yang konteksnya ‘friendly neighborhood,’ atau ‘ramah Rukun Tetangga’.

Spiderman harus melawan King Pin atau Osborn Corp yang jelas-jelas korporat menggurita dan takkan mati ketika bos-nya mati, karena begitulah korporasi. Ia hanya bisa mati kalau ada institusi yang lebih kuat yang menyatakan kematiannya, seperti negara, misalnya. Spiderman, seperti Gundala, adalah tokoh lokal melawan raksasa korporasi, Daud lawan Goliath, Yesus melawan Romawi, Neo melawan the architect dalam The Matrix. Pengkor dengan jaringan mafia dan politik yang ia bangun, menempatkan Gundala sebagai musuh kecil yang imut, dan karenanya—ini yang menarik dan harus ditekankan—Gundala butuh bantuan bukan hanya dari warga lokal, tapi juga dari bagian pemerintahan yang punya modal dan jaringan cukup besar untuk mengatur gerakan manusia petir ini. Ia butuh markas seperti Bat Cave milik Batman, atau Star Lab milik the Flash, atau apapun itu yang akhirnya harus dibuat dari ‘uang rakyat.’ Entah apakah uang untuk membuat vigilante macam Gundala akan diaudit BPK dan KPK atau tidak, dan masuk ke komisi DPR yang mana.

Baik Sancaka dan Pengkor memiliki moralitasnya sendiri-sendiri yang dibentuk dari pengalamannya masing-masing. Moralitas adalah nilai-nilai yang dianut seorang individu, kelompok, atau masyarakat untuk menjadi justifikasi pembenaran atau penyalahan tindakan mereka sehari-hari. Moralitas adalah hasil dari sosialisasi masyarakat terhadap seorang individu, yang pada saatnya, individu itu akan mengsosialisasikannya dengan individu lain yang bisa ia pengaruhi. Krisis moralitas, karenanya, bukanlah ketiadaan moral, tapi bentroknya nilai-nilai moralitas yang satu dengan yang lain. Kontradiksi dan ketidakkonsistenan membuat narasi-narasi terpinggirkan tentang moral mulai keluar ke permukaan dalam berbagai bentuknya. Moral terus dibuat, dikembangkan, dicampur, dilawan dan difabrikasi.

Ketika wacana utama di dalam film Gundala adalah racun untuk ibu hamil yang membuat anak yang lahir ‘tidak bermoral’, moral diandaikan sebagai sebuah benda fisik seperti otak, atau tangan, atau kaki. Di sini seakan-akan moral adalah sebuah kenyataan dan berbentuk fisik atau penyakit seperti influenza. Moral menjadi masalah besar yang dibahas dalam film Gundala, karena sampai akhir film, moral yang dibela oleh Gundala sendiri belum jelas: apakah moral dari negara (dengan kata Patriot sebagai taglinenya)?

Tapi negara semacam apa? Sementara musuh-musuh Gundala seperti Pengkor, membela social welfare anak terlantar, dan ada banyak korupsi di parlemen. Apakah budaya? Sementara tokoh antagonis Ghazul (Ario Bayu) dan Ki Wilawuk (Sujiwo Tedjo) membela chauvinisme eksotisme budaya tradisi yang sering sekali jadi elemen film horror Indonesia alih-alih kearifan lokal yang positif. Sri Asih yang dari nama dan komiknya terbayang sangat Jawa dan Indonesia sudah menjelma Wonder Woman, dimainkan oleh aktris Indo, yang naik limo dengan kostum terkini. Saya jadi membayangkan origin story Sri Asih diganti jadi sebagai noni peranakan Belanda, yang tidak seperti Annelies di Bumi Manusia yang harus dideportasi ke Belanda, berhasil ‘jadi pribumi’ dan mendapatkan kekuatan super dari tradisi lokal.

Hari ini, imajinasi dan janji-janji politik para politikus, negarawan, dan kaum kelas atas, menjelma menjadi cerita-cerita kemapanan klise yang memarginalkan orang lain. Sudah semestinya jadi ada ruang untuk imajinasi dan narasi baru masuk ke otak orang-orang karena kekecewaan ini: imajinasi khilafah, negara Islam, atau memerdekakan diri, masuk ke ceruk-ceruk kekecewaan terhadap institusi negara bernama Indonesia. Seperti kita, Gundala berakhir dengan sebuah pertanyaan besar: Siapakah patriot? Membela apa Patriot kita? Apa patriot kita akan menghancurkan patron sosial seperti Pengkor, atau membunuh tradisi dari masa lalu seperti Ghazul dan Ki Wilawuk? Pertanyaan ini akan kita jawab sama-sama dengan sebuah penerimaan bahwa Gundala, dengan semua baik dan buruknya, adalah kita. Dan kita harus melanjutkan hidup dengan menunggu sekuelnya.

Joker dan Para Kriminal Gila Amerika Serikat

Sementara itu, ketika bicara Joker, kita tidak bisa melepaskan konteks historis film superhero Amerika. Ada banyak sekali arketipe superhero di Amerika. Namun dalam konteks Joker, kita harus bicara sedikit tentang nemesisnya, Batman. Arketipe Batman adalah orang kaya, jenius, lelaki maskulin, dan tampan. Arketipe ini sudah hadir sejak film The Count of Monte Cristo (1922), The Mask of Zorro (1920), hingga Batman dan Iron Man. Tentunya tidak ada musuh yang lebih mudah dendam dengan orang-orang kaya ini selain kaum proletar.

Sentimen kelas jadi motivasi yang sering sekali hadir dalam arketipe pahlawan super jutawan. Ini tidak terhindarkan karena dalam budaya Amerika, pahlawan super kaya ini selalu masuk dalam 1 % masyarakat kaya, dan jadi bagian khayalan orang Amerika. Dan seperti kata dramawan Bertold Brecht, orang kaya tidak mungkin jadi orang baik, karena kalau dia benar-benar baik, hartanya pasti sudah habis untuk orang miskin.

Konteks pertama yang sangat terlihat dan harus ada, adalah menghubungkan film ini dengan franchise Batman. Sepanjang film, kita bisa melihat kesetiaan Todd Philipps untuk menampilkan keluarga Wayne dan asal usul Batman dan Joker dengan cara yang cukup setia dengan banyak film Batman sebelumnya: dari mulai pembunuhan pasangan Wayne di gang, kalung mutiara ibu Bruce, hingga topeng badut yang dipakai Joker di Batman: Dark Knight. Terlepas dari elemen-elemen ini, Todd tetap dapat membuat film ini menjadi realis, tanpa embel-embel teknologi super yang biasanya ada di film Batman.

Di sini kita masuk ke intertekstual kondisi riil di Amerika. Ada dua tema realitas yang saya analisis di film ini. Pertama, adalah hubungan Joker dengan profil pembunuh-pembunuh berantai di Amerika. Charles Manson (orang yang memanipulasi perempuan-perempuan muda untuk melakukan pembunuhan berantai) dan Ed Kemper (pembunuh 30-an mahasiswi yang juga membunuh kakek, nenek dan ibunya sendiri, memotong kepala ibu dan korban-korbannya dan memakai kepala tersebut untuk masturbasi), keduanya punya masalah dengan ibu mereka. Permasalahan dengan ibu bisa terjadi karena terlalu dimanja dan ditipu, atau merasa direndahkan. Figur ibu dalam kondisi psikis pembunuh menjadi arketipe di Amerika, misalnya di film Psycho (1960) karya sutradara Alfred Hitchcock, dimana ibu menjadi tokoh sentral yang membuat anaknya gila dan menjadi pembunuh berantai karena si ibu hidup di alam bawah sadar anaknya sebagai pengendali hasratnya.

Dasar ini dibuat oleh Sigmund Freud di awal abad 20 ketika ia bicara soal Oedipus kompleks, dimana seorang anak mencintai ibunya, awalnya sebagai bagian dari dirinya, lama kelamaan sebagai orang lain, dan akhirnya si anak harus menerima kenyataan pahit bahwa ibunya milik ayahnya atau bahwa si anak adalah perempuan. Tabu inses dengan ibu membuat hasrat yang tidak terpenuhi dan si ibu ditempatkan menjadi kembaran dari hasrat (id), yaitu superego, yang mengatur ego kita tentang apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Ini adalah dasar ilmu psikoanalisis yang bisa dibilang sudah basi, tapi tidak berarti tidak dipakai untuk arketipe psikologis hari ini.

Satu lagi penjahat Amerika yang referensinya terlihat di film Joker adalah David Berkowitz atau dikenal dengan namma Son of Sam, seorang pembunuh berantai di New York yang membunuh orang dengan senjata kaliber .44 demi menjadi terkenal. Arthur membunuh dengan caliber .38. Ia lalu mengirim surat ke polisi dan mendapat pemberitaan publik yang membuatnya tambah suka membunuh.

Permasalahan senjata api di Amerika adalah permasalahan klasik. Hampir sebulan sekali, selalu ada penembakan entah di sekolah, atau di gereja. Dan tidak ada yang bisa mengubah kebijakan senjata api di Amerika hingga hari ini, karena senjata api sudah menjadi bagian integral dari kebudayaan negara itu dari segala lini. Tentunya hubungan historis tokoh Joker sendiri dengan John Wayne Gacy si badut pembunuh berantai, atau kemiripan dengan aktor film hitam putih Conrad Veidth. “The Man Who Laugh” (1928) adalah berita lama. Dalam konteks Joker hari ini, realisme pembunuh berantai dan arketipenya sangat ditekankan.

Film Joker juga dimungkinkan hanya dengan sebuah konteks sosial politik dunia Batman: dunia manusia kulit putih Amerika. Bayangkan kalau Joker berkulit hitam, ia pasti lebih sulit untuk dapat jaminan sosial atau pekerjaan bahkan untuk menjadi badut. Ia mungkin lebih mudah ditembak di jalanan dan tak sempat masuk tv dan didengar orang banyak, apalagi dalam konteks tahun 70-80an.

…jika Anda adalah orang kulit hitam/latino membunuh banyak orang dengan senjata, Anda adalah kriminal bawaan lahir; jika Anda adalah orang keturunan Arab/muslim, Anda adalah teroris; dan jika Anda adalah orang kulit putih, seperti Arthur, Anda adalah orang gila.

Di Amerika, jika Anda adalah orang kulit hitam/latino membunuh banyak orang dengan senjata, Anda adalah kriminal bawaan lahir; jika Anda adalah orang keturunan Arab/muslim, Anda adalah teroris; dan jika Anda adalah orang kulit putih, seperti Arthur, Anda adalah orang gila. Hampir semua penjahat besar Batman adalah orang kulit putih gila, yang ditempatkan di Arkham Asylum (Rumah Sakit Jiwa), bukan di penjara. Dan di situ kita bisa melihat betapa rasis-nya franchise ini, serasis realitas negaranya. Ini adalah sebuah ‘framing’ yang sudah membudaya di Amerika.

Kebanyakan penembak massal di Amerika adalah lelaki kulit putih. Dan pembunuh berantai yang terkenal diangkat media, misoginis dan hipermaskulin (berusaha menjadi maskulin dengan tindakan perkosaan, pembunuhan, mutilasi, nekrofilia), adalah lelaki kulit putih. Imajinasi Joker terhadap perempuan tetangganya pun adalah sebuah ilusi akan kontrol terhadap tubuh dan perilaku perempuan. Itu juga yang menjadi motivasi pembunuhan Penny, ibu Arthur. Motivasi yang mirip dengan ketika pembunuh Ed Kemper membunuh ibunya, memotong kepalanya, dan masturbasi dengan kepala ibunya—ditipu, direndahkan.

Di Amerika, tokoh penjahat membunuh figur orang tua, baik ibu atau pun ayah, adalah sebuah interpretasi atas kebebasan dan kejahatan yang diambil dari psikoanalisis Jung dan Freud di zaman hippie. Jim Morrison, misalnya, dalam lagu The Doors berjudul The End, berpuisi tentang keinginan untuk membunuh ayahnya dan menyetubuhi ibunya. Bahkan dalam film Star Wars Episode VII, tokoh Kylo Ren (Adam Driver) membunuh Han Solo (Harrison Ford), ayahnya sendiri untuk terbebas dari ikatan cinta orang tua.

Gundala dan Joker: Pahlawan dan Penjahat Tanpa Motif

Seperti semua produk budaya, film cenderung akan terjebak dengan konteks kebudayaannya sendiri. Apalagi jika filmnya dibentuk oleh franchise, maka produser dan eksekutif produser harus benar-benar berpikir bagaimana filmnya bisa diterima oleh masyarakat pasarnya. Dan penerimaan itu hanya bisa dibuat oleh representasi-representasi yang hendak dihadirkan di dalam film tersebut oleh sutradaranya. Gundala sebagai film pertama jagad Bumi Langit, berusaha untuk menjadi ramah terhadap penonton keluarga. Sementara Joker, semenjak Trilogi Batman dibuat Christopher Nolan, sudah meninggalkan penonton anak-anak, dan berani menghadirkan film untuk dewasa dengan kata-kata kotor, adegan gory, dan gangguan psikologis dengan wacana-wacana dewasa seperti polisi korup dan kekacauan di Wallstreet.

Belum pernah selama 12.000 tahun perdaban manusia sapiens, kita berhadapan dengan perang naratif sebesar sekarang ini. Data besar menguasai hidup kita sehari-hari. Cerita fiksi, non-fiksi, statistik, ekonomi, dan sosial menyatu dalam singularitas internet dan pasar modal, menentukan hajat hidup orang banyak. Hiperrealitas bisa menjelma amarah publik dari kemarahan fans Harry Potter ketika Hermione dalam versi teater dimainkan oleh perempuan kulit hitam, hingga penembakan massal di bioskop di Amerika oleh orang dengan kostum Joker. Fiksi dan fakta semakin hari semakin berkelindan. Imajinasi adalah alat pembunuhan massal paling efektif: dendam cuma akan membuat dua orang saling membunuh, tapi agama dan negara bisa membuat jutaan orang mati. Pahlawan bagi yang satu bisa menjadi penjahat bagi yang lain, begitu juga sebaliknya.

Dan dalam kondisi kebingungan akan identitas, Joker sebagai penjahat tanpa motif hadir menjelma menjadi katarsis banyak orang. Ia adalah arketipe penjahat tanpa motif yang dibuat Shakespeare di abad 16, dengan Iago-nya, tokoh antagonis dalam drama Othello, dimana kehadirannya cuma bertujuan membuat keributan dan kekacauan terjadi dan cerita serta tragedi bisa jalan. Penjahat tanpa motif, pemberontakan tanpa sebab, adalah hasil dari stagnasi, dari kedamaian yang didasarkan atas opresi serta mimpi-mimpi kosong tentang kesuksesan dan kemakmuran yang tidak sejalan dengan kenyataan.

Keputusasaan Hollywood sangat terlihat dengan kembalinya wacana-wacana supremasi kulit putih, dan Joker—sebagus-bagusnya ekseskusi dan akting dalam filmnya—merepresentasikan hal itu. Wacana-wacana supremasi kulit putih, misoginis, dan rakus pada hasrat tanpa batas hadir dalam kegamangan tokoh jahat yang sebenarnya adalah cerminan pahlawan yang menjadi musuhnya, Batman. Batman dan sidekick-nya semua kulit putih. Hampir semua musuhnya kulit putih. Perempuan baik adalah yang pasif dan perempuan aktif adalah adalah penipu, pencuri, gila (Catwoman), pembunuh, femme fatale, gila (lagi) (Poison Ivy, Harley Quinn). Sementara Batgirl tak lebih dari cerminan dari Robin, pasangan homoerotis Batman, seperti di film-film noir: lelaki hipermaskulin dipasangkan dengan lelaki feminin. Formula lama yang dihidupkan dan diterima berkali-kali oleh masyarakat karena keakrabannya dengan kebudayaan patriarki barat.

Seperti Joker, Gundala di film pertamanya ini juga adalah pahlawan tanpa motif. Dia hanya membela lingkaran kecil, yang ia sendiri ragukan. Ia meragukan identitasnya, asal usulnya. Dia meragukan apakah orang-orang yang dia bela bisa dipercaya. Ia meragukan ‘negara’ dan ‘rakyat’. Ia hanya bisa bilang terima kasih atas kostum yang diberikan dengan ‘duit rakyat’, tanpa bisa berpikir implikasinya bahwa tidak seperti SHIELD di Marvel, atau Star Lab the Flash, dana hibah untuk Gundala belum jelas asalnya dari proyek apa. Cuma Batman yang boleh punya penggelapan dana, karena toh itu dari perusahaan dia sendiri.

Ketika negara dan investor sudah campur tangan, maka birokrasi harus ditunjukkan, secara transparan. Jika bentuknya rahasia, maka Gundala bisa jadi tidak berbeda dengan BIN, atau tentara black ops, yang misinya di bawah tangan dan membela kepentingan segelintir orang yang memegang kekuasaan. Di situ, kepahlawanan hilang, dan dalam konteks semacam itulah superhero nasionalis macam Captain America (memilih jadi buronan daripada jadi antek negara yang sudah dikuasai neo liberal. Yes, Martin Scorcesse, menurut saya film Marvel adalah film bagus karena tokoh seperti Captain America bisa menjadi sangat tidak America.

Joker tidak membela siapa-siapa kecuali kekacauan. Batman dan Ironman membela kepentingan korporasi. Captain America (Chris Evans) membela kebebasan yang tidak lagi ada di Amerika dengan jadi buronan. Sementara Gundala masih gundah gulana hendak membela siapa sambil menunggu sequel selanjutnya untuk tahu apakah ibunya benar-benar bohong dan meninggalkannya. Semoga ibunya tidak sedang tiduran dengan bantal. Karena kita tahu perempuan pembohong, baiknya diapakan dengan bantal. Dalam tradisi superhero/supervillain laki-laki, ada kulkas tempat menyimpan mayat-mayat perempuan, untuk jadi motivasi agar cerita bisa bergerak maju—mayat ibu, bibi, kekasih, saudara, dikumpulkan dalam situ dan dilihat-lihat jagoan kita kalau ia butuh motivasi. Semoga tradisi ini tidak kita ikuti.

Kyle Rayner finds his girlfriend Alex in the refrigerator
Kyle Rayner finds his girlfriend Alex in the refrigerator

*) Nosa Normanda adalah antropolog dan jurnalis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here